
UNISDA Lamongan Selenggarakan Webinar “SAINS: A Place Where Academia and Industry Are Sharing Ideas” Sebagai Wadah Kolaborasi Ilmu dan Dunia Usaha
- Posted by Informatika UNISDA
- Date 20 September 2024
- Comments 0 comment
Lamongan, 20 September 2024 – Universitas Islam Darul ‘Ulum (UNISDA) Lamongan melalui Fakultas Sains dan Teknologi kembali menunjukkan komitmennya dalam menjembatani dunia akademik dan dunia industri dengan menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “SAINS: A Place Where Academia and Industry Are Sharing Ideas” pada Jumat, 20 September 2024 secara daring melalui platform Google Meet.
Webinar ini menghadirkan dua pembicara utama yang memiliki pengalaman luas dalam dunia akademik dan industri, yaitu Dr. Ir. Satar S. Emamian, akademisi dan pakar inovasi dari Asia e-University Malaysia, serta Dewi Kusuma, ST., MSc., praktisi dan peneliti di bidang teknologi terapan. Keduanya membagikan wawasan dan strategi tentang bagaimana menjalin sinergi antara perguruan tinggi dan sektor industri dalam menciptakan inovasi yang relevan dan berkelanjutan.
Menumbuhkan Budaya Kolaborasi Akademik-Industrial
Dalam sambutannya, Mimin Aminah yusuf S.T M.Ars menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis kampus dalam memperkuat kolaborasi riset dan pengembangan ilmu pengetahuan yang aplikatif.
“Kami menyadari bahwa tantangan global hari ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu pihak. Diperlukan kolaborasi erat antara akademisi sebagai pusat ilmu pengetahuan dan industri sebagai penggerak implementasi. Webinar ini menjadi ruang strategis untuk menjembatani dua dunia tersebut,” ungkapnya.
Paparan Materi: Dari Riset Akademik Menuju Implementasi Nyata
Dr. Ir. Satar S. Emamian, dalam pemaparannya, menyoroti pentingnya membangun triple helix collaboration yang kuat antara akademisi, industri, dan pemerintah. Ia menekankan bahwa riset yang baik harus memiliki orientasi pemecahan masalah nyata, dan agar dapat diimplementasikan, dibutuhkan keterlibatan pelaku industri sejak tahap awal perencanaan riset.
Sementara itu, Dewi Kusuma, ST., MSc. memaparkan berbagai studi kasus terkait hasil riset kampus yang berhasil dikomersialisasikan berkat keterlibatan mitra industri. Ia juga memberikan panduan praktis dalam membangun kerangka kerja kolaboratif, mulai dari penjajakan kemitraan, penyusunan roadmap inovasi bersama, hingga pelindungan hak kekayaan intelektual (HKI) atas hasil riset.
“Tidak semua riset bisa langsung diterima industri. Maka penting bagi peneliti untuk memahami kebutuhan pasar, serta mampu mengomunikasikan nilai dari penelitiannya dalam bahasa yang dimengerti oleh pelaku usaha,” jelas Dewi dalam sesi presentasinya.
Antusiasme Peserta dan Dampak Akademik
Webinar ini diikuti oleh lebih dari 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, peneliti, serta pelaku usaha kecil menengah (UMKM) dan startup teknologi dari berbagai wilayah di Indonesia. Suasana diskusi berjalan aktif, dengan peserta mengajukan pertanyaan terkait model kolaborasi riset, peluang pendanaan inovasi, serta peran mahasiswa dalam mendorong hilirisasi hasil penelitian.
Salah satu peserta, Muhammad Al Khodir, menyatakan bahwa webinar ini sangat membuka wawasan tentang pentingnya berpikir lintas sektor sejak dalam proses pendidikan.
“Kami jadi paham bahwa dunia riset tidak boleh terputus dari kebutuhan dunia nyata. Kolaborasi seperti ini penting untuk menciptakan solusi yang benar-benar berdampak,” ujarnya.
Komitmen UNISDA: Akademik untuk Kesejahteraan Masyarakat
Melalui webinar ini, UNISDA Lamongan menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan tinggi berbasis nilai Islam yang tidak hanya fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada penguatan daya guna ilmu dalam kehidupan nyata. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya universitas dalam mewujudkan Kampus Merdeka yang mendorong penguatan inovasi, kewirausahaan, dan kemitraan strategis.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari kemitraan jangka panjang antara UNISDA dan sektor industri. Kolaborasi semacam ini akan terus kami dorong agar mahasiswa dan dosen memiliki ruang aktualisasi yang lebih luas,”



